Kereta Api Mengatasi Masalah



Jepang Sebagai Contoh
Jepang, Negara paling maju diasia yang telah membangun negaranya secara sukses, cepat, tertata, dan terkendali, padahal dahulu jepang porak-poranda setelah kalah perang dalam perang dunia ke dua, namun Negara matahari terbit tersebut mampu bangkit kembali dari keterpurukan dengan cepat dan sukses. Kenapa bisa seperti itu? Jawabannya adalah karena semangat, kerja keras, dan kemauan. Tahun 1960an Jepang mulai sedikit demi sedikit memperbaharui aspek yang menunjang terbentuknya Negara yang lebih baik. Salah satu aspek yang paling diperhatikan oleh jepang adalah Kereta Api, kereta api dianggap transportasi paling cepat dan paling banyak mengangkut masa, low risk dan tanpa hambatan. Oleh karena itu pemerintah Jepang menganggap kereta api sebagai moda transportasi utama yang perlu direvitalisasi pasca perang dunia ke dua.

Sejak tahun 1986 pengelolaan perkeretaapian jepang dilakukan oleh JNR (Japanese National Railway), sebelumnya dikelola Japanese Government Railway sebagai pengelola utama terbesar milik pemerintah yang kemudian diprivatisasi menjadi JNR. JNR terbagi menjadi 7 operator regional, yaitu JR Hokkaido, JR East, JR Central, JR West, JR Shikoku, JR Kyushu dan pengelola angkutan barang yaitu JR Freight. Ketujuh operator tersebut mengelola daerahnya masing masing dibawah naungan Japanese National Railway. Dibentuknya JNR dengan ketujuh operator regional tersebut terbukti sukses membangun, mengelola dan mengembangkan moda transportasi kereta api sebagai pilihan favorit warga jepang untuk berpergian. JR sukses karena JR fokus dan serius mengelola perkeretaapian jepang, penggunanya pun dalam hal ini masyarakat jepang menghargai keberlanjutan pengembangan kereta api yang dibangun pemerintah jepang. Tak heran jika sekarang kita melihat banyaknya jaringan rel kereta api jepang, dan semuanya tertata rapih, serta sukses menjaring ke seluruh pelosok tanah jepang, bahkan sarana pendukung lainnya yang dapat mempermudah lajunya kereta api pun dibangun secara serius, seperti terowongan yang menembus gunung, terowongan bawah laut (seikan tunnel), jembatan dan sebagainya. Memang biaya untuk membangun semua itu sangat mahal, namun Jepang terbukti serius dan tidak main-main membangun sarana moda transportasi kereta api yang dapat memberikan kemudahan dan kenyamanan warganya.
Pasca PD II, Jepang mampu melihat kedepan, bahwa beberapa puluh tahun kedepan populasi penduduk akan bertambah banyak, oleh karena itu untuk mengurangi aspek negatifnya (kemacetan dan kepadatan) maka dari awal Jepang telah serius berinvestasi dalam perkeretaapian sebagai sarana mobilitas penduduk, dan hal tersebut terbukti sukses, kita bisa lihat sekarang kereta api menjadi pilihan utama masyarakat Jepang untuk menjalankan aktivitasnya. Tidak hanya kereta api yang menjadi favorit warga jepang, namun juga transportasi masal yang dioperasikan diruang lain, seperti Subway dan Monorail. Diversifikasi moda transportasi tersebut bukan hanya mempermudah konsumen, namun mengurangi kemacetan dan meminimalisir penggunaan ruang yang sudah semakin padat terutama di kota-kota besar.


Komitmen Kereta Api Indonesia
Di Negara kita perkeretaapian dikelola secara tunggal oleh perusahaan Negara, dalam hal ini BUMN, yaitu PT. Kereta Api Indonesia. PT. KA dipercaya melanjutkan kegiatan operasional perkeretaapian yang seluruhnya adalah peninggalan Belanda. Sebenarnya kita tidak seperti Jepang yang tidak pernah diwariskan jaringan rel kereta, stasiun, gerbong, lokomotif dan sebagainya. Pasca kemerdekaan kita sangat beruntung di berikan secara Cuma-Cuma hasil penjajahan Belanda di negeri Indonesia yaitu asset perkeretaapian yang sungguh besar nilainya, dan PT. KA, hanya tinggal melanjutkannya saja. Namun kenapa kita masih tertinggal oleh Negara lain, jangankan Jepang, dengan Negara tetangga pun kita masih kalah bersaing dalam hal moda transportasi masal ini.
Hal ini terbukti bahwa pemerintah dulu kurang memiliki visi yang panjang mengenai apa yang akan terjadi dalam kependudukan, pemerintah tidak bisa melihat ledakan penduduk yang terjadi saat ini dan menelurkan banyak masalah kependudukan. Terbukti kita lihat sekarang masalah utama yang dihadapi pulau jawa adalah kemacetan dan ketidakefisienan energi yang terbuang percuma karena kemacetan lalu-lintas. Pertumbuhan kendaraan jauh lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan jalan raya.
Sebenarnya masalah diatas dapat terjawab dengan kereta api. Jika saja dahulu aset-aset perkerataapian peninggalan belanda dirawat, dijaga, dan dikembangkan secara serius, maka masalah yang terjadi saat ini akan berkurang. PT KA belum terlambat untuk berbenah, saatnya sekarang pemerintah lebih fokus menjadikan kereta api sebagai transportasi andalan masyarakat Indonesia. Kita tidak bisa menyalahkan 100% kepada masyarakat yang lebih memilih menggunakan kendaraan pribadi, karena fasilitas transportasi publik yang diberikan pemerintah pun belum memadai. Jika saja fasilitas yang diberikan pemerintah memadai dalam hal ini kereta api, maka masyarakat pun akan beralih dan memilih menggunakan kereta api.
Saat ini masyarakat pun bingung, inginnya ga macet-macetan dijalan, lebih enak naik transportasi yang aman, nyaman, dan cepat sampai, itulah yang sebenarnya diinginkan masyarakat. Lalu apalagi jika bukan kereta api yang bisa menjawab permasalahan tersebut?
Padahal jika saja PT. KA bisa menjawab keinginan pasar dalam hal ini masyarakat, tentu masalah yang ada pun akan terurai. Kita bisa belajar dari Jepang, mereka serius berinvestasi pada aset yang sangat berharga yaitu kereta api, terbukti hasil dari apa yang mereka serius lakukan dahulu, yaitu mendahulukan revitalisasi perkeretaapian, hasilnya sekarang bisa mereka dapatkan, kemacetan pun tidak terjadi.
Jika uang adalah masalah untuk berinvestasi dalam perkeretaapian, tidak ada salahnya PT KA memaksimalkan aset yang ada. Pembukaan rangkaian baru Bandung – Cirebon merupakan salah satu contoh memaksimalkan aset yang ada. Kereta api bisa memecahkan masalah kemacetan jalur jalan raya Bandung – Cirebon. Dengan adanya keragaman transportasi publik menuju cirebon tentu akan menguraikan masalah yang ada, masyarakat semakin banyak pilihan transportasi mana yang akan dipilh. PT KA tidak perlu takut dengan respon dari moda transportasi lain yang bermain di jalur Bandung – Sumedang – Cirebon. Karena ini adalah persaingan sehat dan sudah sewajarnya PT KA memfasilitasi masyarakat dan memenuhi kebutuhan pasar yang sudah waktunya perlu dibuka rangkaian kereta api Bandung – Cirebon.
Seperti halnya pembukaan kereta tujuan Sukabumi, hal tersebut patut dicontoh oleh jalur-jalur lain untuk memaksimalkan aset PT KA yang jika dibuka kembali okupansinya cukup menguntungkan.


Dukungan Masyarakat
Sudah seharusnya masyarakat menyambut gembira dengan dibukanya rangkaian-rangkaian baru PT KAI, hal tersebut akan membawa dampak positif bagi keberlangsungan usaha kereta api, seperti hal nya masyarakat Jepang yang menghargai sekali jaringan kereta api, bahkan orang tua mengajarkan mengenai kereta api kepada anak-anaknya, sehingga tercipta image dalam pikiran warga Jepang untuk menghargai moda transportasi masal, tidak heran banyak sekali penggemar kereta api tersebar di seluruh pelosok Jepang, yang biasa disebut Tetsu.
Pemerintah pun jangan terus mengandalkan jalan raya sebagai fasilitas publik utama, memang tahun 1970an kita memandang sebelah mata kereta api, karena BBM masih murah, sebagian orang lebih memilih naik mobil, dan kala itu mobil masih sedikit, penduduk belum banyak seperti sekarang, berbanding terbalik dengan keadaan jalan raya sekarang. Sudah waktunya kereta api sebagai jawaban yang paling utama untuk mengatasi permasalahan kependudukan, keberagaman transportasi publik yang ada akan menimbulkan efek domino bagi peningkatan ekonomi masyarakat, bukan berarti karena adanya jalur kereta api moda transportasi lain hancur, tetapi keberagaman itulah yang justru akan meningkatkan perekonomian masyarakat. Kita bisa belajar banyak dari Jepang, pilihan transportasi publik begitu banyak, dan semuanya bersaing secara sehat, ada kereta api, subway, pesawat, monorail, bus, travel, dsb. Kenapa kita tidak mencontoh Jepang saja? Kuncinya adalah keseriusan dan kemauan pemerintah dalam meberikan fasilitas publik yang terbaik, dan juga masyarakatnya yang perlu menghargai keberadaan fasilitas transportasi publik.


BACA JUGA KATA-KATA MUTIARA EDISI MARET 2012

0 komentar:

Poskan Komentar

Artikel Terbaru

Template Ini Di buat oleh Blog Informasi dan Berita Unik Terbaru ( Fahmi Setiawan ) yang didukung oleh Blogger